Berita

Apa Itu Wisata Halal? Berikut Penjelasannya

Apa itu wisata halal? Apa tujuannya? Dan bagaimana pengembangannya?. Pertanyaan ini sering muncul ketika berbicara konsep wisata halal di Indonesia.

Sebelumnya, di Indonesia sendiri sudah ada konsep wisata religi. Lalu apa bedanya wisata halal dengan wisata religi?

Pada awalnya, konsep wisata halal digagas pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata, yang bertujuan antara lain adalah, untuk mengisi empty leg (kursi kosong) pesawat-pesawat charter dari berbagai kota di Indonesia yang membawa jemaah umrah ke Arab Saudi.

Untuk mengimbangi banyaknya jemaah umrah, saat pesawat kosong setelah mengantar jemaah dari Indonesia diharapkan kursi yang ada terisi oleh wisatawan asal timur tengah yang notabene adalah wisatawan muslim.

Melihat kondisi ini, maka diminta kepada beberapa daerah di Indonesia bersiap untuk mengantisipasi wisatawan asal timur tengah dengan konsep pelayanan halal atau syariah.

Hal tersebut dikatakan oleh Wakil Sekjen DPP Himpunan Pramuwisata Indonesia, Osvian Putra, pada Sabtu (17/3/2018).

Dirinya mengakui memang ada beberapa daerah sudah siap, katakanlah Aceh, Sumbar dan NTB. Namun, fakta di lapangan bisa dilihat, ternyata kedatangan wisatawan dari Timur tengah sebagai resiprokal atas banyaknya jemaah umrah asal Indonesia ternyata tidak menunjukkan hasil. Bisa dicek, apakah ada wisatawan timur tengah berkunjung ke daerah tersebut.

“Maka pertanyaannya adalah, apakah benar-benar konsep halal tersebut yang diinginkan oleh wisatawan. Jawa Barat dan Bali tidak punya dan tidak menang dalam kontestasi wisata halal, tapi kenyataannya secara faktual di dua daerah itulah wisatawan timur tengah beredar,” tandasnya lagi.

Dirinya menjelaskan, untuk menjadikan wisata halal di Riau, secara sederhana di setiap objek wisata mesti tersedia mushalla/tempat shalat yang membuat pengunjungnya terasa nyaman pada saat melaksanakan ibadah.

Selanjutnya restoran-restoran di Riau harus mendapat sertifikat Halal. Ini yang menjadi masalah, masih ada beberapa restoran besar di Pekanbaru yang belum bersertifikat Halal.

Di Hotel setiap kamar harus ada penunjuk arah kiblat, harus ada sajadah (halal stage 1), nah setelah itu pegawai hotel harus berpakaian syariah, setiap waktu shalat diperdengarkan azan dan setiap hari jumat diadakan ibadah shalat jumat (halal stage-2).

“Kalau mau contoh yang baik untuk hotel dengan konsep syariah adalah hotel Raudah di jalan Zainal Abidin Pekanbaru, di kamar tersedia petunjuk arah kiblat, ada sajadah, ada Al Qur’an disetiap kamar, diperdengarkan kumandang azan setiap waktu shalat dan ada juga penyelenggaraan shalat jumat, selain itu, pegawainya juga berpakaian secara syar’i (terutama wanita),” tutur Osvian.

Selanjutnya, untuk para pramuwisata, saat penyelenggaraan tour pemandu wisata juga harus siap dan cekatan mencarikan fasilitas ibadah saat masuk waktu shalat kepada wisatawan yang dipandunya.

“Pemandu wisata juga diminta bisa paham dan merekomendasikan restoran yang menyajikan makanan halal kepada wisatawan” cakap Osvian Putra.

Osvian menyarankan, untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah harus “memaksa” pengusaha terkait untuk memenuhi standar sesuai konsep syariah diatas.

Pemerintah provinsi Riau pernah mengumpulkan seluruh pelaku industri pariwisata khususnya hotel. Dari pihak Kementerian untuk menindaklanjuti tentang sertifikasi halal yang selanjutnya akan diterbitkan oleh pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuat fatwanya.

“Kalau melakukan koordinasi dan himbauan yang dilakukan pemerintah sih sudah ada, tapi implementasi di lapangan belum ada. Saran saya, untuk kedepannya undang seluruh stakeholder pariwisata dan pengelola/pengusaha objek wisata, beri arahan, kuncinya disitu. Kapan perlu undang Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal (TP3H) Riyanto Sofyan, pemilik hotel Sofyan grup,” tegasnya.

Terakhir, Osvian Putra, menyampaikan agar semua pihak harus sama-sama bergerak untuk mendukung program ini. Upaya pemerintah provinsi Riau dalam mendorong program stratagi Pentahelix (Pemerintah, Akademisi, Dunia Usaha, komunitas dan Media) yang digagas Kementrian Pariwisata patut diberikan apresiasi dalam upaya meningkatkan tumbuh kembangnya pariwisata. Stakeholder terkait harus bergerak serasi saling mendukung guna memajukan Pariwisata di Indonesia, Riau khususnya diantaranya program wisata halal.

Sumber: goriau.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *