Artikel

Cukup, Halal, dan Berkah

Di sepotong pagi, dua sahabat karib, Samin dan Komar, bercengkerama sebelum mereka “berdinas”. Sambil membaca koran, Samin mengomentari berita tentang anggota Dewan yang meminta komisi kepada kepala daerah.Begitu mengetahui nominalnya, mata Samin pun terbelalak. “Suapnya nyampe satu miliar, Mar! kata Samin heran.
“Kalau kita punya gaji dua juta per bulan, kita butuh waktu hampir setengah abad untuk mendapatkan uang segitu. Itu pun kalau gaji kita utuh, enggak dipotong koperasi atau enggak ngasih anak-istri,” ucap Samin.
“Sudahlah, Min, jangan banding-bandingin gaji kamu sama nominal itu. Bisa stres nanti kamu! Toh, rezeki yang diraih dengan cara seperti itu kan tidak berkah,” ucap Komar sambil merapikan tumpukan kerupuk yang bakal dijaja ke warung-warung. “Mending kamu pikirin gimana caranya cari rezeki tambahan yang halal,” lanjut Komar.
“Iya, sebagai rakyat yang diwakili mereka, saya ikut merasa malu, Mar. Mestinya mereka yang terhormat itu memberi teladan kepada kita, ya!” ucap Samin.
“Sudah, Min, taruh korannya, sudah hampir jam tujuh, nih! Saya mau keliling ngampas rambak. Kamu lekas stand by sana di kantor lurah! Mana tahu Pak Lurah butuh dikawal,” imbuh Komar.
“Untuk urusan rezeki, serahkan saja sama Yang di Atas. Tugas kita hanya berdoa dan mencarinya dengan cara yang halal,” pungkas Komar sembari ngengkol motor.

* * *

Perkara rezeki merupakan urusan-Nya, Sang Mahakaya. Kita sebagai makhluk cuma berkewajiban berikhtiar meraihnya dengan cara ahsan lagi halal. Namun, terkadang kita kerap merasa kurang dengan apa yang kita punya.
Apalagi, kalau hati sudah terpapar rasa dengki. Kita bakal memaksakan diri mengikuti gaya hidup atau berusaha memiliki apa yang orang lain punya. Kalau hawa nafsu menguasai, jalan pintas pun akan diambil. Segala cara akan kita ditempuh untuk mengejar rupiah, termasuk melalui suap, rasywah, maupun korupsi. Nauzubillah!
Hidup tak bisa dilepaskan dengan perkara hati. Hati yang tenang merupakan kebahagiaan yang paripurna yang ingin dirasakan setiap insan. Seseorang yang memiliki rezeki nan berkah pasti hatinya akan merasa tenang daripada orang yang punya seabrek harta tapi dari hasil suap.
Maka, ketika Allah memberi kita rezeki yang cukup, halal, dan berkah—meski tak melimpah, sepatutnya kita melisankan syukur dan tidak abai akan perintah-Nya. Terlebih, badan, hati, dan pikiran kita masih diberi-Nya kesehatan. Alhamdulillah!

Sumber: lampost.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *