Fatwa MUI Informasi

Fatwa MUI Tentang Air Daur Ulang

Air merupakan sumber kehidupan, pepatah tua menyatakan bahwa banyak air berarti banyak rejeki. Pentingnya air dalam kehidupan bisa dipahami dari banyaknya dimana sebagian besar bumi ini lebih luas lautannya ketimbang daratannya. Demikian juga dalam tubuh manusia dimana sebagian besar tubuh manusia berisi cairan. Allah Swt telah sempurna menyediakan keberadaan air ini untuk kebutuhan makhluk-Nya dengan adanya siklus hujan. Hujan merupakan fenomena alam yang terjadi di bumi sehingga ketersediaan air menjadi seimbang. Sehingga bagaimana baiknya mengelola/mengolah air agar dapat digunakan sebaik-baiknya sesuai dengan ketentuan islam.

Dengan adanya hal tersebut maka MUI merasa perlu untuk membuat Fatwa mengenai Air Daur Ulang. Adapun hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam pembuatan Fatwa  tentang Air Daur Ulang sebagai berikut :

MENIMBANG

  1. Bahwa perkembangan teknologi memungkinkan daur ulang air yang semula berasal dari hasil limbah yang merubah kemutlakan air.
  2. bahwa penggunaan air daur ulang dalam masyarakat meningkat seiring dengan peningkatan pesat kebutuhan air dan penurunan kualitas sumber air akibat dari peningkatan jumlah penduduk, laju urbanisasi dan perkembangan industri.
  3. bahwa selama ini belum ada standar baku kehalalan dalam pemanfaatan air daur ulang sehingga muncul pertanyaan seputar hukum pemanfaatannya.
  4. bahwa oleh karena itu dipandang perlu menetapkan fatwa tentang pemanfaatan air daur ulang guna dijadikan pedoman.

MENGINGAT

Firman Allah SWT :

 

 

 

 

 

“Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah), yang mati, dan agar kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak” (QS. Al-Furqan[25]: 48-49)

 

 

 

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya” (QS. al-Ma’idah [5]: 88).

Hadis Rasulullah SAW, antara lain:
“Dari Umar ra ia berkata: Nabi SAW pernah ditanya tentang air dan yang terkena binatang ternak serta binatang buas maka beliau bersabda: “Apabila air telah mencapai dua kullah maka tidak mengandung najis.” (HR. Al-Hakim).

“Dari Abi Umamah ra bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya air itu suci dan tidak ada yang menajiskannya kecuali sesuatu yang merubah bau, rasa dan warnanya.” (HR. Ibnu Majah).

Dan dalam salah satu riwayat dengan lafazh: “tidak dapat ternajiskan.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud; Tirmidzi; Nasai dan Ibnu Majah. Dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim dan Ibnu Hibban).

MEMPERHATIKAN

  1. Pendapat ulama terkait masalah tata cara pensucian air yang terkena najis, sebagaimana pandangan Imam al-Syirazi dalam kitab al-Muhazzab, dan Imam Ibnu Qudamah dalam al-Mughni yang isinya “Apabila hendak mensucikan air yang najis maka harus dilihat, jika najisnya karena berubahnya sifat air dan jumlahnya lebih dari dua kullah maka bisa disucikan dengan (i) menghilangkan penyebab berubahnya air (bau, rasa, warna). (ii) menambahkan air, atau (iii) mengambil sebagiannya. (Menjadi suci) karena yang menyebabkan air tersebut najis adalah karena berubah, dan sudah dihilangkan (karenanya menjadi suci).
  2. Hasil Workshop tentang Air Daur Ulang yang diselenggarakan oleh LP-POM MUI pada 17 Maret 2009.
  3. Keterangan ahli dari Departemen Teknologi Industru Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian IPB mengenai penerapan air daur ulang di beberapa negara, ahli dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jakarta mengenai sistem pengolahan air di PDAM, ahli dari Departemen Kesehatan mengenai standar air sehat dan layak minum, dan ahli dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup mengenai kebijakan Pemerintah dalam pengelolaan sumber daya air dan daur ulang air.
  4. Makalah tentang hukum air daur ulang dalam kajian fikih yang disajikan oleh Ahmad Munif Suratmaputra, Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia.
  5. Pendapat, saran, dan masukan yang berkembang dalam Sidang Komisi Fatwa pada Rapat Komisi Fatwa 27 Januari 2010.

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : FATWA TENTANG AIR DAUR ULANG

Ketentuan Umum

  1. Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan air daur ulang adalah air hasil olahan (rekayasa teknologi) dari air yang telah digunakan (musta’mal), terkena najis (mutanajjis) atau yang telah berubah salah satu sifatnya, yakni rasa, warna, dan bau (mutaghayyir) sehingga dapat dimanfaatkan kembali.
  2. air dua kullah adalah air yang volumenya mencapai paling kurang 270 liter.

Ketentuan Hukum

  1. Air daur ulang adalah suci mensucikan (thahir muthahhir), sepanjang diproses sesuai dengan ketentuan fikih.
  2. ketentuan fikih sebagaimana dimaksud dalam ketentuan hukum nomor 1 adalah dengan salah satu dari tiga cara berikut :
    1. Thariqat an-Nazh : yaitu dengan cara menguras aur yang terkena najis atau yang telah berubah sifatnya tersebut, sehingga yang tersisa tinggal air yang aman dari najis dan yang tidak berubah salah satu sifatnya.
    2. Thariqah al-Mukatsarah : yaitu dengan cara menambahkan air suci lagi mensucikan (thahir muthahhir) pada air yang terkena najis (mutanajjis) ayau yang berubah (mutaghayyir) tersebut hingga mencapai volume paling kurang dua kullah, serta unsur najis dan semua sifat yang menyebabkan air itu berubah menjadi hilang.
    3. Thariqah Taghyir : yaitu dengan cara mengubah air yang terkena najis atau yang telah berubah sifatnya tersebut dengan menggunakan alat bantu yang dapat mengembalikan sifat-sifat asli air itu menjadi suci lagi mensucikan (thahir muthahhir), dengan syarat :
      1. Volume airnya lebih dari dua kullah.
      2. Alat bantu yang digunakan harus suci.
    4. Air daur ulang sebagaimana dimaksud dalam angka 1 boleh dipergunakan untuk berwudhi, mandi, mensucikan najis dan istinja, serta halal diminum, digunakan untuk memasak dan untuk kepentingan lainnya, selama tidak membahayakan kesehatan.

REKOMENDASI

  1. Meminta pemerintah untuk memasukkan standar kehalalan air dalam penetapan ketentuan mengenai standar air bersih dan standar air minum di samping standar kesehatannya, sesuai dengan ketentuan fatwa ini.
  2. Meminta Pemerintah, PDAM dan pihak yang mengelola daur ulang air serta seluruh pemangku kepentingan diharapkan meningkatkan mutu dan kualitas kecanggihan alat yang dipergunakannya sejalan dengan kemajuan zaman dengan menjadikan fatwa ini sebagai pedoman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *