Fatwa MUI Informasi

Fatwa MUI Tentang Kopi Luwak

Komisi Fatwa MUI mengeluarkan fatwa tentang kejelasan hukum mengkonsumsi kopi, dimana kopi tersebut berasal dari biji kopi yang dimakan oleh hewan luwak dan kemudian dikeluarkan kembali bersama kotorannya, kemudian diolah menjadi serbuk kopi yang dikonsumsi masyarakat dan dikenal dengan kopi luwak.

Maka oleh karena itu dipandang perlu adanya fatwa tentang Kopi Luwak sebagai pedoan bagi masyarakat, baik dalam rangka memproduksi, menjual, maupun mengonsumsi kopi luwak. Sehingga MUI mengeluarkan Fatwa MUI Nomor : 07 Tahun 2010 sebagaimana isinya berikut:

Firman Allah SWT :

 

 

 

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari yang allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada allah yang kamu beriman kepada-Nya” (QS. al-Ma’idah[5]:88)

 

 

 

 

 

“Katakanlah, Tiadalah aku beroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi —karena sesungguhnya semuanya itu kotor— atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa (memakannya), sedangkan dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

MEMPERHATIKAN :

  1. Pendapat dalam Kitab al-Majmu’ Juz 2 halaman 573, yang menerangkan “jika ada hewan memakan biji tumbuhan kemudian dapat dikeluarkan dari perut, jika tetap kondisinya dengan sekiran jika ditanam dapat tumbuh maka tetap suci.”
  2. Pendapat dalam Kitab Nihayatul Muhtaj Juz II halaman 284, yang menerangkan “Ya jika biji tersebut kembali dalam kondisi ssemula sekira sekira ditanam dapat tumbuh maka statusnya adalah mutanajjis, bukan najis, bisa dipahami, pendapat yang menegaskan kenajisannya kemungkinan jika tidak dalam kondisi kuat. Sementara, pendapat yang menegaskan sebagai mutanajjis kemungkinan karena dalam kendisi tetap, sebagaimana barang yang terkena kotoran lain. Analog dengan biji-bijian adalah pada masa telur, jika keluar dalam kondisi utuh setelah ditelan dengan sekira ada kekuatan untuk dapat menetas, maka hukumnya mutanajjis, bukan najis”.
  3. Pendapat dalam kitab Hasyiyah I’ anatu al-Thalibin Syarh Fath al-Mu’in Juz I halaman 82, yang menerangkan “jika ada hewan memuntahkan biji tumbuhan atau mengeluarkannya melalui kotoran, jika biji tersebut keras, sekira ditanam dapat tumbuh maka statusnya adalah mutanajjis”.
  4. Hasil Rapat Kelompok Kerja Komisi Fatwa MUI Bidang Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika beserta Tim LPPOM MUI pada 2 Juni 2010.
  5. Makalah Dr. KH. Munif Suratmaputra dan penjelasan dari Tim LPPOM MUI yang disajikan pada Rapat Komisi Fatwa tanggal 16 Juni 2010.
  6. Penjelasan dari LP POM MUI atas pertanyaan dari Komisi Fatwa mengenai kemungkinan tumbuhnya biji kopi yang telah dimakan luwak pada Rapat Komisi Fatwa MUI tanggal 14 Juli 2010, yang pada intinya menyatakan secara umum biji kopi yang keluar dari kotoran luwak tidak berubah serta dapat tumbuh jika ditanam.
  7. Pendapat peserta rapat-rapat komisi fatwa Majelis Ulama Indonesia, mulai tanggal 2 Juni 2010 hingga terakhir pada tanggal 20 Juli 2010 Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : FATWA TENTANG KOPI LUWAK

Ketentuan Umum

dalam fatwa ini yang dimaksud dengan: Kopi Luwak adalah kopi yang berasal dari biji buah kopi yang dimakan oleh luwak (paradoxorus hermaproditus) kemudian keluar bersama kotorannya dengan syarat :

  1. Biji kopi masih utuh terbungkus kulit tanduk.
  2. Dapat tumbuh Jika ditanam kembali.

Ketentuan Hukum

  1. Kopi Luwak sebagaimana dimaksud dalam ketentuan umum adalah mutanajjis (barang terkena najis), bukan najis.
  2. Kopi Luwak sebagaimana dimaksud dalam ketentuan umum adalah halal setelah disucikan.
  3. Mengonsumsi Kopi Luwak sebagaimana dimaksud angka 2 hukumnya boleh.
  4. Memproduksi dan memperjualnelikan Kopi Luwak hukumnya boleh.

Ketentuan Penutup

  1. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya.
  2. Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *