Berita

Halal Sentuh Setiap Aspek Kehidupan

Apakah halal merupakan konsep yang disalahartikan, bahkan di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim? Apakah kita mengerti Islam sepenuhnya? Apakah kita berusaha memahami ajaran filosofis Islam?

Profesor dari Universitas Monash Malaysia Pervaiz Ahmed beranggapan selama bertahun-tahun, pendidikan Islam perlahan berubah apokrif. “Saya berbicara tentang bagaimana segala sesuatu telah ditafsirkan selama ini,” kata Ahmed dilansir dari The Star Online, Rabu (10/1).

Menurut dia, Islam dapat disalahartikan sebagai hal sangat prosedur dan ritualistik. Dia tak menampik, orang-orang mengikuti prosedur dan ritual Islam, tetapi sebenarnya tidak sepenuhnya memahami mengapa mereka melakukannya.

“Mereka perlu memahami pentingnya melakukan sesuatu, tapi sayangnya ada missing link. Konsep halal adalah contoh bagusnya,” ujar dia.

Dalam bahasa Arab, halal pada dasarnya tentang pembelaan terhadap individu dari Islam. Namun, saat ini halal lebih merujuk pada apa yang boleh dan tidak diperbolehkan.

Ahmed mengambil contoh alkohol. Kebanyakan negara Islam melarang semua bentuk alkohol, tetapi penggunaan alkohol dalam bentuk kimia diperbolehkan, seperti untuk pembersihan. Demikian pula, parfum yang dapat diterima di masyarakat tertentu.

Ahmed menjelaskan, apa yang ditekankan Islam adalah efek alkohol pada manusia, tapi bukan asal atau bentuk alkohol. Bagaimanapun, alkohol adalah bahan kimia dalam bentuknya yang paling murni.

Pun juga menyoal halal dalam membunuh binatang. Agama manapun tidak mengizinkan manusia membunuh sesama makhluk hidup. Sehingga, menyembelih dalam Islam diawali dengan berdoa meminta izin pada Allah SWT.

Ahmed menjelaskan, dari sudut pandang ilmiah, menghilangkan atau menguras darah hewan sangat dianjurkan. Alasannya, darah membawa patogen yang bisa menyebabkan penyakit. Tindakan menyembelih itu mempertimbangkan faktor kesehatan. Jelas, penting untuk memiliki pemahaman ilmiah tentang ritual menyembelih, bukan hanya mengikuti hafalan pendidikan secara membabi buta.

Menurut Ahmed, konsep halal disalahpahami dan disalahartikan dengan cara berbeda dalam lingkungan masyarakat yang berbeda. Kebanyakan orang cenderung mengasosiasikan halal dengan makanan. Namun, halal menyentuh setiap aspek kehidupan kita.

Dia menjelaskan, apabila melihat tanda halal, artinya memperlihatkan proses dari peternakan hingga menjadi hidangan. Namun, bagaimana dengan makanan yang dikonsumsi hewan itu?

Mungkin ada unsur pakan yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Masalahnya adalah, kebanyakan orang berpikir halal hanya tentang bagaimana anda membunuh hewan itu.

Ahmed menegaskan, cara memperlakukan hewan juga merupakan pertimbangan penting. Misalnya, menggunakan bahan kimia berbahaya untuk merangsang pertumbuhan dan penggemukan unggas, itu masuk tindakan tidak halal. “Alquran dengan jelas menyatakan, hewan memiliki hak mereka, sehingga kita perlu menghormati hak-hak tersebut,” katanya.

Mistreating hewan tidak diperbolehkan. Alquran dan sejarah peradaban Islam mengajukan banyak contoh kebaikan, belas kasihan dan kasih sayang untuk hewan,” ujar dia.

Ahmed mengatakan, untuk benar-benar memahami dan menghargai konsep halal, perlu memahami ekosistem halal. Di daerah di mana tanah penuh dengan bahan kimia arsenik, itu bukan halal. Makanya, sayuran yang ditanam di lahan tersebut tidak halal.

“Di Monash University, kami memiliki tim peneliti yang mengerjakan proyek Platform Halal Research. Penelitian adalah bagian fundamental dari Islam,” tutur dia.

Ahmed menegaskan, konsep halal baik bagi semua, tidak hanya umat Islam. Tidak ada alasan mengapa non-Muslim tidak boleh terlibat dengan atau menjadi bagian dari ekosistem ini. 

Sumber: Republika.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *