Berita

Nanung: Hampir Semua Negara Punya Lembaga Sertifikasi Halal

SLEMAN — Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) memiliki kelas halal yang secara rutin dilaksanakan setiap Kamis sore (1/3). Untuk pertemuan ke-14 kali ini, kelas halal mengangkat tajuk Perkembangan Potensi Pasar Produk Halal dari Setiap Sudut di Dunia.

Sejumlah mahasiswa dan mahasiswi yang baru saja selesai melaksanakan shalat Ashar di Masjid UGM tampak berpindah menuju ruangan sebelah kiri mimbar. Sambil mengenakan, alas kakinya, mahasiswa dan mahasiswi lain tampak bergegas pula menuju lokasi yang sama.

Ratusan bangku pun telah rapi disusun dengan satu jalan melintas di tengah, sekaligus sebagai penanda untuk jamaah pria dan wanita. Satu layar proyektor dari kejauhan terlihat sedang disiapkan pembicara, yang selepas Ashar tampak sudah sampai lebih dulu di ruangan.

Ternyata, itu merupakan kelas halal yang rutin diselenggarakan pengurus Masjid UGM. Setiap Kamis sore, kelas halal diadakan yang terbuka untuk umum, dan memang diikuti tidak hanya sivitas UGM melainkan jamaah-jamaah yang melaksanakan shalat berjamaah di Masjid UGM.

Pelaksanaan kelas halal di hari pertama Maret 2018 kali ini, merupakan ke-14 kalinya kelas halal dilaksanakan. Kelas halal kali ini merupakan satu sesi sebelum sesi terakhir yang akan dilaksanakan pada Kamis sore pekan depan.

Setelah mengisi daftar hadir, jamaah pria langsung menempati barisan tempat duduk sebelah kiri, dan jamaah wanita mengisi bangku-bangku yang ada disusun sebelah kanan. Direktur Halal Center Fakultas Peternakan UGM, Nanung Danar Dono, mengisi kelas halal sore itu.

Sebagai pembuka, Nanung mengatakan, kali ini kelas halal akan memberikan pemahaman cara-cara untuk mendapatkan atau membedakan makanan-makanan halal di luar negeri. Terlebih, hampir setiap negara di dunia sudah memiliki lembaga sertifikasi halal.

“Jadi kalau ada yang bilang mencari makanan halal di luar negeri itu susah, sepertinya orang itu kurang jalan-jalan,” kata Nanung, Kamis (1/3).

Nanung menuturkan, salah satu cara paling mudah mendapati makanan itu halal dengan mencari label lembaga halal di negara tersebut. Saat pembicara menayangkan label-label halal dari negara-negara dunia, tampak peserta begitu sigap mengabadikannya melalui telepon genggam.

Wajah sedikit takjub terlihat hampir dari semua peserta, yang tampak kaget ternyata ada lembaga-lembaga halal hampir di setiap negara dunia. Mulai label-label dari negara-negara Asia, Eropa, Timur Tengah sampai Amerika ditampilkan pembicara.

Secara umum, anggota LPPOM MUI DIY dan MES DIY tersebut memaparkan pengelompokkan makanan berdasarkan sikap terhadap status kehalalannya. Mulai dari makanan yang aman disantap, makanan yang harus diwaspadai dan makanan yang harus dihindari.

Dia menekankan, makanan-makanan yang aman disantap di antaranya karena tidak disebut haram di Alquran dan hadis. Kemudian, karena tidak mengandung bahan haram, tidak tercemar bahan haram dan tidak diperuntukkan untuk keperluan berhala.

“Ada jenis-jenis makanan yang aman disantap tapi banyak yang masih rugi, misalnya air sulingan, yang masih murni dan belum tercampur bahan tambahan pangan,” ujar Nanung.

Selain itu, ada susu full cream, pasteurize, UHT dan lain-lain. Ada pula nasi, pasta dan spaghetti yang belum dimasak, sayuran mentah atau didinginkan, buah mentah, kentang dengan kulitnya, telur-telur hewan, ikan asap dan minyak ikan hiu, sammpai teh dan kopi.

Dia memaparkan, pula jenis-jenis makanan yang harus diwaspadai mulai cuka, roti, mie instan, sushi, bumbu instan, saus, kecap, minyak (frying), butter, mayonisemargarine, roti sandwich, keju, coklat, kosmetik, obat-obatan, kebab, dan burger dan restoran ayam goreng.

Namun, dia menekankan, kewaspadaan itu dimaksudkan agar sebelum memakan atau membelinya, masyarakat dapat teliti dulu kandungan-kandungannya. Artinya, makanan-makanan yang masuk daftar itu bisa halal atau haram dimakan setelah diperhatikan bahan-bahannya.

Sumber: republika.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *