Berita

Pengembangan Destinasi Wisata Halal Tak Perlu Berbentuk Zonasi

JAKARTA — Pengembangan destinasi wisata halal bisa dimulai dari meningkatkan layanan tempat wisata atau tempat-tempat tujuan untuk menyediakan hal-hal yang dibutuhkan para wisatawan Muslim.

“Kalau saya berpendapat membuat suatu daerah [destinasi wisata halal] itu jangan menjadi block zone atau zonasi, tapi yang perlu ditingkatkan adalah Muslim friendly di sana besar. Serta layanannya,  juga friendly untuk kaum Muslim,” ungkap Ketua Umum Indonesia Halal Lifestyle Center Sapta Nirwandar kepada Bisnis, belum lama ini.

Menurutnya, daerah yang potensial menjadi destinasi wisata halal adalah Sumatra Barat dan Aceh. Namun, Sapta menilai sebenarnya semua daerah di Indonesia berpotensi untuk dijadikan destinasi wisata halal.

Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah wilayah pertama yang mengklaim sebagai destinasi wisata halal di Indonesia.

Sementara itu, berdasarkan catatan Bisnis, pemerintah telah menetapkan 10 destinasi wisata ramah Muslim yaitu Aceh, Sumatra Barat, Lombok, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Riau dan Kepulauan Riau (Kepri), Sulawesi Selatan, dan DI Yogyakarta.

Dia menyatakan banyak layanan atau fasilitas halal yang mudah diintegrasikan dan ditemukan di kehidupan sehari-hari.

“Potensi untuk menjadi destinasi halal itu mudah. Sekarang sudah banyak mal yang memiliki musola yang bagus dan bersih, itu juga merupakan kategori destinasi wisata yang halal, dekat dengan tempat ibadah,” lanjutnya.

Berdasarkan Global Islamic Economy Report 2017/2018, negara destinasi wisata halal terbaik dunia adalah Malaysia, disusul oleh Uni Emirat Arab (UEA), dan Turki. Indonesia berada di posisi keempat, padahal sebelumnya tidak pernah masuk dalam daftar 10 besar.

Thailand, yang jumlah penduduk Muslimnya masuk kelompok minoritas, berada di posisi kelima. Sama seperti Indonesia, Negeri Siam sebelumnya berada di luar deretan 10 besar.

Secara keseluruhan, pasar turisme Muslim terus meningkat hingga US$10 miliar per tahun sejak 2014. Pada 2016, nilainya mencapai US$169 miliar dan diperkirakan dapat menyentuh US$283 miliar pada 2022.

Sumber: industri.bisnis.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *