Berita

Perjalanan Irwandi Jaswir Garap Alat Pendeteksi Produk Halal dan Haram

Profesor Dr. Irwandi Jaswir, baru saja menerima penghargaan King Faisal International Prize (KFIP) 2018 untuk kategori ‘Berjasa untuk Islam’ di Riyadh, Arab Saudi. Profesor asal Indonesia itu terkenal sebagai pengembang ‘Halal Science’, cabang ilmu baru yang berfokus pada identifikasi produk halal dan haram. Lewat inovasinya di bidang penelitian halal ini, Irwandi ditunjuk sebagai sosok yang mendapatkan penghargaan terhormat tersebut dari Arab Saudi.
Kepada kumparan (kumparan.com), Profesor Irwandi mengungkapkan inovasi apa saja yang sedang dikembangkan saat ini serta bagaimana perkembangan industri halal baik itu di Indonesia maupun di dunia.
Halal science sendiri dikembangkan untuk melihat apakah sesuatu itu termasuk halal atau haram yang tidak hanya dilihat dari segi agama Islam, tetapi juga dari ilmu pengetahuan.
 
Halal Bukan Hanya Soal Makanan
Soal halal-haram mungkin orang langsung berpikiran mengenai makanan dan minuman. Ternyata, makanan dan minuman halal justru bukanlah penyumbang terbesar pemasukan industri halal.
Industri halal itu nilainya 3 triliun dolar AS per tahun. Justru makanan hanya menyumbang seperempatnya,” kata Irwandi, Kamis (12/1). “Justru setengahnya datang dari industri pharmaceutical seperti obat dan kosmetika.”
Tidak hanya makanan, obat dan, kosmetik, industri halal juga kini sudah merambah pariwisata halal dengan konsep wisata syariah.
Saat ini, wisata halal bahkan sudah dikembangkan oleh negara-negara non Muslim. Dengan konsep Muslim friendly, halal tourism dilihat sebagai peluang untuk menarik lebih banyak wisatawan Muslim.
Selain itu, ‘halal logistics‘ juga menjadi unsur penting dalam industri halal. Halal logistics dilakukan untuk memastikan agar distribusi barang yang digunakan oleh umat Muslim tidak tercampur dengan bahan-bahan yang haram.
 
Pengembangan Teknologi Pendeteksi Produk Haram
“Perkembangan produk saat ini semakin rumit bahannya. Karena itu, untuk mendeteksi apakah produk tersebut haram, teknologinya pun harus berkembang,” kata Irwandi.
Ia mengatakan, seiring kemajuan zaman, analisis terhadap produk halal dan haram itu semakin sulit.
Oleh karenanya, agar umat Muslim bisa tetap waspada dan merasa aman, pengembangan terhadap teknologi untuk membedakan kandungan halal dan haram dalam suatu produk harus dilakukan.
Irwandi mengungkapkan ada dua cara yang dilakukan untuk membedakan kandungan halal dan haram dalam suatu produk.
Cara pertama adalah pengembangan terhadap metode yang sebelumnya sudah ada. Pengembangan ini dilakukan agar laboratorium dapat mendeteksi zat haram dengan lebih cepat.
Yang kedua, adalah dengan menciptakan ‘electronic nose’ atau hidung elektronik.
“Alat ini sebesar pulpen. Bisa dimasukkan ke dalam minuman kemudian bisa terdeteksi apakah ada alkohol di dalamnya,” ungkapnya.
Saat ini, paten untuk electronic nose yang dapat mendeteksi alkohol sudah dibeli oleh perusahaan Malaysia dan akan segera diedarkan.
“Satu lagi untuk mendeteksi lemak babi. Tapi ini masih dalam tahap pengembangan,” kata pria berusia 47 tahun tersebut.
 
Saran untuk Industri Halal Indonesia
Besarnya keuntungan yang didapat dari industri halal menurut Irwandi seharusnya dapat dimanfaatkan oleh Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia.
Sayangnya, Indonesia belum memanfaatkan peluang dari industri ini dengan baik.
Bahkan menurutnya, industri halal justru malah lebih banyak berkembang di negara-negara non Muslim seperti Australia dan Brazil.
“Jepang memanfaatkan momen terutama untuk menyambut Olimpiade tahun 2020. Mereka membangun wisata halal dengan menggunakan hotel-hotel yang dilabeli ‘Muslim Friendly’ agar dapat menarik wisatawan Muslim,” papar Irwandi.
Selain itu, untuk mengembangkan industri halal, menurutnya, Indonesia juga harus mengimbangi dengan memperkuat research and development yang berkaitan dengan halal industri.
Sumber: Kumparan.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *