Destinasi Wisata Informasi Jakarta

Sekelebat Wisata Halal di Jakarta

Tak ada aturan baku perihal waktu bervakansi, namun hari Sabtu dan Minggu seakan sudah menjadi kesepakatan bersama untuk berlibur. Padahal apa bedanya dengan hari lainnya? Rabu misalnya.

Beberapa saat lalu, saya meluangkan waktu untuk mengunjungi beberapa lokasi wisata di Jakarta pada hari Rabu. Niatnya hanya untuk melihat kawasan yang rencananya akan dijadikan proyek percontohan wisata halal di Jakarta.

Awal bulan Maret 2018, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pariwisata Halal dan Destinasi Halal di Balai Kota DKI Jakarta. Poin penting pembahasannya adalah Jakarta sebagai destinasi wisata halal pada tahun 2020.

Sandi menambahkan kawasan yang kemungkinan akan dijadikan proyek percontohan adalah Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Kawasan Kota Tua, dan Pulau Seribu. Pertanyaannya sejauh mana kawsan-kawasan itu siap menyambut kedatangan turis Muslim dunia?

Menjelang pukul 09.00 WIB saya memacu skuter matik menuju ke selatan Jakarta. Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan menjadi tujuan pertama saya. Karena jalanan sedang tidak macet, dari daerah Condet saya hanya perlu 30 menit untuk mencapainya.

Bagi saya yang hampir setiap hari melewati jalur Lenteng Agung-Setu Babakan jika ingin menuju Depok, tentu tidak sulit menemukan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Namun saya rasa beda cerita jika bukan orang yang akrab dengan tata letak kawasan tersebut. Aplikasi peta di gawai pun saya pikir kurang berfungsi jika tidak bertanya kepada penduduk sekitar. Penunjuk jalan juga terkadang ada dan tiada.

Kawasan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan terletak di Srengseng Sawah, kecamatan Jagakarsa, Kotamadya Jakarta Selatan. Lokasi tepatnya adalah di Jalan Muhammad Kahfi II. Lebar jalannya tidak sampai 15 meter, itu artinya dua mobil ditambah satu motor di tengah cukup membuat jalan ini mampat. Belum lagi angkutan kota yang sering berhenti lama di pinggir jalan.

Padahal kawasan seluas sekitar 289 hektare ini rencananya bakal dikembangkan menjadi lima zona. Wow! Bahkan sekarang saja, zona A sudah cukup untuk menampung ribuan pengunjung.

Gerbang masuk zona A Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan

Usai memarkir kendaraan di tempat yang telah disediakan, saya masuk ke gedung yang rencananya akan dijadikan Museum Betawi. Beberapa barang kesenian dan kebudayaan khas Betawi, seperti alat masak, alat musik, batik, miniatur kendaraan, Ondel-ondel, dan lukisan, terpajang rapi dalam ruangan seluas 50 meter itu.

Suhu ruangan juga diperhatikan dengan menggunakan pendingin ruangan untuk menjaga keawetan barang-barang. Di luar gedung utama ada teater, contoh bangunan rumah adat Betawi, toilet, dan musala.

Beranjak ke arah danau, deretan pohon membuat suasana di sekitarnya nampak teduh dan bersahaja. Pagi penggemar kegiatan memancing, tempat ini bisa dijadikan pilihan. Bagi yang tidak gemar memancing, bisa menyicipi kuliner yang dijajakan di sekitar danau ataupun di dalam kawsan zona A. Kerak Telor atau Es Cendol bisa jadi pilihan.

Kerak Telor, kuliner khas Betawi yang dijual di Setu Babakan

Jika bicara tentang wisata halal, Jakarta memang sangat potensial. Masakan tradisional Jakarta sepertinya tidak ada yang mengandung bahan non halal, mencari masjid atau musala untuk menunaikan solat pun tidak akan dibuat bingung. Namun industri wisata halal meminta adanya standarisasi untuk menjamin konsumen. Standar itu berupa sertifikasi halal dari pemerintah.

Saya berkesempatan berbincang dengan Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Rofiqoh Mustafa.

Ia tidak berani memberikan jawaban pasti perihal sertifikasi halal untuk kuliner di kawasan yang dikelolanya. Pasalnya lingkup kerjanya tidak sampai ke ranah tersebut.

“Saya rasa di sini insyaallah halal semua,” ujar Rofiqoh.

Namun ia menyatakan siap mengikuti aturan yang ditetapkan jika Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sudah ketok palu untuk mengembangkan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan sebagai salah satu objek wisata halal.

Kota tua yang ceria

Usai berkeliling di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan selama hampir dua jam, saya arahkan kendaraan menuju kawasan Jakarta Utara tepatnya ke Kota Tua Jakarta, objek wisata halal lain yang ditetapkan oleh Pemprov DKI Jakarta.

Sebelum menuju Kawasan Kota Tua, saya sempatkan mempir ke Masjid Istiqlal. Tempat ini tak pernah sepi dari kegiatan keagamaan, saat saya tiba sekitar pukul 13.00 WIB nampak rombongan ibu-ibu yang baru saja keluar dari masjid.

Tak hanya untuk beribadah, Masjid Istiqlal juga ramai didatangi oleh turis yang berwisata.

Selain dikenal sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara, Istiqlal juga merupakan salah satu objek wisata utama di Jakarta. Letaknya yang berseberangan dengan Gereja Kathedral membuat banyak pihak menganggap bahwa ini adalah lambang kerukunan umat beragama di Indonesia. Tak heran jika Istiqlal juga ramai dikunjungi wisatawan dari beragam kalangan.

Dari Istiqlal, rute terdekat menuju Kota Tua Jakarta adalah melewati Jalan Gadjah Mada.

Bagi sebagian warga Jakarta, kawasan Gadjah Mada merupakan ‘oase’ untuk melepas kepenatan. Di tempat itu adalah gudangnya tempat hiburan malam khusus orang dewasa. Kuliner yang mengandung bahan tidak halal juga banyak tersaji, bahkan ada tempat makan yang sampai melegenda.

Sepanjang jalan Gadjah Mada, saya bertanya dalam hati, “Bagaimana jika Jakarta benar-benar dijadikan destinasi wisata halal tahun 2020? Mau diapakan tempat-tempat itu?”

Namun seiring dengan hilangnya pertanyaan itu, ternyata saya sudah sampai di Kota Tua Jakarta.

Setelah memarkir sepeda motor, saya menuju ke alun-alun Kota Tua. Ternyata di hari Rabu banyak juga orang yang sudah memulai akhir pekannya di sini.

Ada lebih dari seribu orang yang sedang melakukan aktivitas wisata, muli dari naik sepeda sewaan dengan topi ala meneer, sibuk selfie dengan tongsis, mencari komposisi yang bagus untuk foto, atau yang sekadar memberi makan Burung Dara.

Di sana saya juga melihat rombongan turis dari Jepang. Mereka terlihat asyik melihat bentuk bangunan bekas gedung Balai Kota yang sekarang dijadikan Museum Sejarah Jakarta. Sesekali mereka berhenti untuk mengamati detil ornamen bangunan. Bagi yang baru pertama kali datang seperti mereka, kawasan ini memang tak ada habisnya untuk dijelajahi.

Mencari tanda-tanda tempat salat di kawasan Kota Tua Jakarta yang sebegini luas

Tak terasa azan salat Asar berkumandang. Saya langsung celingukan mencari tempat ibadah.

Saat bertanya kepada satpam yang berjaga, ia mengatakan kalau setiap museum kini dilengkapi dengan musala. Jika malas masuk ke dalam museum, bisa juga menumpang di tempat makan yang berjajar di samping kawasan Kota Tua Jakarta.

Membayangkan berjalan kaki ke dalam museum sudah membuat saya merasa kelelahan, apalagi sore itu matahari bersinar dengan teriknya. Saya memutuskan untuk menumpang salat di salah satu tempat makan, meski agak mengernyit saat melihat penampakan kamar mandi dan tempat salatnya yang serba kecil.

Setelah salat dan sebelum matahari benar-benar tenggelam, saya memutuskan untuk meninggalkan kawasan ini.

Sepanjang langkah menuju parkiran motor saya berharap usaha Pemprov DKI Jakarta mewujudkan wisata halal benar terwujud, sehingga saat saya dan jutaan turis Muslim di dunia kembali datang ke Setu Babakan dan Kota Tua, kami tak lagi harus dilema dalam hal menyantap kulinernya atau mencari tempat salat di dalam kawasannya.

Sumber: cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *