Fatwa MUI Informasi

Fatwa MUI tentang Penyembelihan Hewan Halal

Mengacu pada surat QS. Al-Maidah :3 :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Maidah [5] :3)

Maka Majelis Ulama Indonesia menerbitkan Fatwa Nomor 12 Tahun 2009 tentang STANDAR SERTIFIKASI PENYEMBELIHAN HALAL dengan isi Fatwa sebagai berikut :

Ketentuan Umum :

dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan :

  1. Penyembelihan adalah penyembelihan hewan sesuai dengan ketentuan hukum islam
  2. Pengolahan adalah proses yang dilakukan terhadap hewan setelah disembelih, yang meliputi antara lain pengulitan, pencincangan, dan pemotongan daging.
  3. Stunning adalah suatu cara melemahkan hewan melalui pemingsanan sebelum pelaksanaan penyembelihan agar pada waktu disembelih hewan tidak banyak bergerak.
  4. Gagal penyembelihan adalah hewan yang disembelih dengan tidak memenuhi standar penyembelihan halal.

Ketentuan Hukum :

A. Standar Hewan Yang Disembelih

  1. Hewan yang disembelih adalah hewan yang boleh dimakan.
  2. Hewan harus dalam keadaan hidup ketika disembelih.
  3. Kondisi hewan harus memenuhi standar kesehatan hewan yang ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan.

B. Standar Penyembelihan

  1. Beragama Islam dan sudah akil baligh.
  2. Memahami tata cara penyembelihan secara syar’i.
  3. Memiliki keahlian dalam penyembelihan.

C. Standar Alat Penyembelihan

  1. Alat penyembelihan harus tajam.
  2. Alat dimaksud bukan kuku, gigi/taring atau tulang.

D. Standar Proses Penyembelihan

  1. Penyembelihan dilaksanakan dengan niat menyembelih dan menyebut asma Allah.
  2. Penyembelihan dilakukan dengan mengalirkan darah melalui pemotongan saluran makanan, saluran pernafasan/tenggorokan, dan dua pembuluh darah.
  3. Penyembelihan dilakukan dengan satu kali dan secara cepat.
  4. Memastikan adanya aliran darah dan/atau gerakan hewan sebagai tanda hidupnya hewan.
  5. Memastikan matinya hewan disebabkan oleh penyembelihan tersebut.

E. Standar Pengolahan, Penyimpanan, dan Pengiriman

  1. Pengilahan dilakukan setelah hewan dalam keadaan mati oleh sebab penyembelihan.
  2. Hewan yang gagal penyembelihan harus dipisahkan.
  3. Penyimpanan dilakukan secara terpisah antara yang halal dan nonhalal.
  4. Dalam proses pengiriman daging, harus ada informasi dan jaminan mengenai status kehalalannya, mulai dari penyiapan (seperti pengepakan dan pemasukan ke dalam kontainer), pengangkutan (seperti pengapalan/shipping), hingga penerimaan.

F. Lain-Lain

  1. Hewan yang akan disembelih, disunnahkan untuk dihadapkan ke kiblat.
  2. Penyembelihan semaksimal mungkin dilaksanakan secara manual, tanpa didahului dengan stunning dan semacamnya.
  3. Stunning (pemingsanan) untuk mempermudah proses penyembelihan hewan hukumnya boleh.
  4. Melakukan penggelonggongan hewan, hukumnya haram.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *